Welcome to My Sanctuary

If you are a dreamer, come in.
If you are a dreamer, a wisher, a liar,
A hope-er, a pray-er, a magic bean buyer...
If you're a pretender, come sit by my fire.
For we have some flax-golden tales to spin.
Come in!
Come in!


(INVITATION - Shel Silverstein)

Friday, September 14, 2012

Tinggal di Amerika dan Kebiasaan Memberikan Tips

Salah satu pelajaran pertama bagi siapa saja yang baru saja tinggal di Amerika adalah untuk membiasakan diri memberikan tips. Tips atau dalam sebutan lain "gratuity" bukanlah hal baru dalam etiket sosial di negara Barat. Tips bukan uang rokok seperti di Indonesia. Tips bukan juga uang pelicin. Tips adalah bentuk dari penghargaan seseorang karena orang yang membantunya sudah mengerjakan hal yang layak atau baik menurutnya. Meski demikian, memberikan tips bukanlah sebuah paksaan atau keharusn, kecuali memang sudah ada aturannya. Misalkan, kalau kita datang ke sebuah restoran beserta banyak orang, maka memberikan tips pada pelayan yang melayani kita adalah sangat dianjurkan. Besarnya tips pun beragam dan biasanya sudah ada ketentuannya sekian persen dari negara bagian bersangkutan. Contohnya, tips sebesar 15% kalau di sebuah restoran itu adalah sesuatu yang lazim. Tapi restorannya pun biasanya yang skalanya menengaj ke atas, bukan restoran fast food atau yang berbentuk kedai biasa. Kalau di kedai biasa seperti diner atau restoran kecil, tips sebesar 10% sudah cukup.

Pemberian tips ada dua macam, berupa uang tunai yang kita tinggalkan di meja tempat kita makan, misalnya, atau yang langsung kita berikan pada si pemberi jasa, bisa juga digabungkan dalam kartu kredit saat kita membayar harga makanan. Tips tidak hanya berlaku di restoran. Kalau kita memotong rambut ke sebuah salon atau barbershop, tips kita berikan pada si pemberi jasa dalam bentuk uang tunai. Kebiasaan saya, tips untuk pemotong rambut adalah minimal $5. Tips juga bisa diberikan pada orang yang sudah membantu melayani kita dan jumlahnya bisa jadi kecil. Seperti misalnya meninggalkan kembalian receh di kedai donut atau tempat pengisian BBM. Di beberapa hotel besar atau apartemen mewah, tips diberikan pada orang yang membawakan koper kita atau membukan pintu. Supir taksi pun biasanya mendapatkan tips dari para penumpangnya, demikian juga pengantar makanan take-out.
Uang tunai yang ditinggalkan di atas meja di restoran pun tidak akan ada yang mengambilnya. Sebab orang sudah tahu, tips itu biasanya memang ditinggalkan di meja

Di Amerika ada aturan dari lembaga pajak bahwa para pekerja yang mendasarkan pendapatannya dari gaji dan tips, harus memberikan rincian jumlah tipsnya saat kewajiban mengisi formulir pajak tiap tahunnya tiba. Bagi yang tidak melaporkan pendapatannya dalam bentuk tips, bisa dikenai denda atau ancaman hukuman pidana. Tapi laporan ini tidak berlaku bagi orang yang tidak selalu mendapatkan tips seperti supir taksi, pembuka pintu apartemen, pengantar makanan atau pekerja di pomba bensin. Keharusan melaporkan penerimaan tips itu biasanya dilakukan oleh para pekerja di salon atau pelayan restoran. Karena pemberian tips ini lebih banyak tergantung pada pribadi yang bersangkutan yang memberi, jumlahnya bisa beragam. Sayangnya, oleh segelintir pengusaha restoran, terutama yang pemiliknya orang China, saya mengetahui dari beberapa pelayan yang bekerja di situ kalau tips mereka dikumpulkan dan diberikan ke mereka sebagai gaji mereka dan bukan sebagai tips. Jadi bisa dibilang pengusaha ini berbuat curang dengan menggunakan uang tips sebagai gaji dari pekerjanya.

Saat saya masih bekerja menjadi kasir toko, saya suka ditinggali recehan dari para pelanggan. Kalau dikumpulkan selama 8 jam bekerja, lumayan juga dapatnya. Lain hari saat saya membantu memilihkan seorang ibu membeli sebuah permainan lottere, ternyata dia menang besar. Si ibu memberikan saya tips sebesar $20. Kata dia, saya berhak tips itu. Seorang bapak pun pernah memberikan saya tips sebesar itu karena saya selalu membantu dia mengurusi permainan lottere-nya hampir setiap hari. Sedangkan cerita yang terbaru menyoal tips terjadi saat saya sekeluarga makan bersama teman dan suaminya di New York di sebuah restoran Thai. Kami sudah menyisihkan uang untuk tips-nya, kemudian si pelayan datang mengembalikannya. Katanya "gratuity" sudah termasuk dalam hitungan biaya makan kami. Kami kagum karena si pelayan jujur, meski kami tidak keberatan tentang tips-nya. 


Pengalaman lainnya termasuk aneh bin ajaib, sewaktu saya, suami dan beberapa kawannya makan di sebuah restoran Chinese-Malaysia. Pelayanan dari si pelayan sangat kasar, dengan membanting piring hidangan ke meja dan melengos begitu saja kalau memberikan sesuatu ke kami. Kami memberikan tips yang sesuai dengan jumlah harga makanan yang kami santap, 10% saja. Toh, kami pikir, pelayanannya juga kurang memuaskan. Begitu kami beranjak meninggalkan meja kami, si pelayan mengejar kami dan protes minta tambahan tips-nya yang menurut dia kurang apalagi karena kami datang berempat. Mestinya si mbak pelayan sadar diri, tips besar itu datang lewat upayanya yang baik melayani orang. Kalau pelayanannya sudah kasar, apa pantas dia meminta tips besar? Jangan lupa, intinya memberikan tips adalah kerelaan, tapi bukan berarti pelit dalam memberikannya.


D. Yustisia

10 comments:

  1. hensamfamily
    delete reply
    hensamfamily wrote on Jul 24
    Jadi kisaran tipsnya antara 10 - 15% ya Bu. Lumayan gede juga ya.
    Seperti bayar pajak dua kali.

    ------------

    dianadji wrote on Jul 24

    Begitulah kisaran besarnya tips itu kalau di Amerika. Gedenya sih nggak akan terasa kalau dibandingkan dengan harga jasa yang kita bayar. Kalau biaya makan siang misalnya $20, tips sebesar $2, itu nggak seberapa besar.

    Ya, jangan dianggap sebagai bayar pajak dong, beda sekali soalnya. Tips itu kan dari kita sebagai pengguna & penerima jasa tertentu, sebagai bentuk penghargaan. Kalau memberi tips dipandang seperti membayar pajak, berarti kita terpaksa dan mungkin merasa kayak dipalak untuk memberi penghargaannya. Santai aja soal tips, nggak usah terlalu dibuat susah, pak.

    ReplyDelete
  2. indres wrote on Jul 24
    Mba' Dian, saya termasuk yg tdk suka dengan budaya tips ini karena pada prakteknya sering disalahgunakan oleh employer. Dulu kakak saya bekerja jadi waitress di NY, di restorant fancy, gajinya kecil sekali, dalih yg punya restoran: kan nanti kamu dapat tips. Di tempat yg lain lagi, tips ternyata dipool jadi satu lalu dibagi rata kepada pelayan yg bertugas di shift tersebut.

    Anyway, di Belanda utara tips itu tidak lazim (turis kadang memberi), tapi yg namanya layanan tetap prima. Dikasih tips akan bilang terimakasih, tidak dikasih juga tetap tersenyum dan diberi salam sampai jumpa lagi.

    ----------

    Mengenai penyalahgunaan tips sebagai ganti gaji itu memang kecurangan yg terjadi dalam prakteknya di dunia bisnis restoran. Meski kalau ketahuan ada ancaman serius dari department of labor juga IRS (badan pajak). Alasan pemilik restoran tidak memberikan gaji gede buat pekerjanya tentunya tergantung pribadinya dia. Karena gaji minimal di masing2 state diatur sedemikian rupa, jadi nggak bisa lebih rendah dari itu gaji seseorang. Tapi bukan berarti orang2 curang nggak akan ada ya, kalau yg aku temui di restoran buffet yg dikelola orang2 China gajinya dipukul rata dalam hitungan sebulan. Jadi misalnya si pekerja itu kerjanya dari jam 11 pagi sampai 10 malam selama 6 hari, gaji sebulannya $1,200.

    Soal tips yang dikumpulkan terus dibagi rata, itu juga pernah aku tahu juga. Hal lainnya ada pula aturan tidak tertulis dari si pelayan restoran dengan orang yang membersihkan mejanya, berbagi tips. Tujuannya bagi rata tips karena supaya adil, meski buat yg medapatkan tips lebih banyak tentunya nggak enak banget itu. Ada juga orang yang sengaja menyembunyikan tips-nya supaya nggak ketahuan sama pihak managementnya. Kayaknya mau aku bahas sendiri nih soal ini,

    ReplyDelete
  3. indres wrote on Jul 24
    Betul mba' Dian, soal tips yang dipool ini, sering ada yang menyembunyikan tips atau kebalikannya dituduh teman-temannya menyembunyikan tips. Suasana kerja jadi tidak nyaman. Padahal tadinya maksudnya baik, supaya yang kerjanya di belakang tetap bisa kebagian tips juga.

    ReplyDelete
  4. myshant wrote on Jul 24
    di Indonesia ini yg saya biasa kasih tips hanya ketika nyalon dan makan di restoran fine dining
    kalau makan di warung atau resto kecil, malah dipandang aneh kalau ninggalin tips :)
    oya, suka ngelebihin ongkos taksi, pembulatan ke atas gitu. misalnya argonya 36rb, ya udah bayar 40rb gak minta kembalian :-D

    ----------

    Pas aku pernah makan bareng dengan camer, beliau meninggalkan sekian Rupiah di meja sebagai tips. Pelayannya malah mengambil duitnya dan ngasih balik ke camer. Kata si mbak pelayan, camer ketinggalan duitnya. Waktu camer bilang itu buat dia, mbaknya bingung, hahaha.

    Aku juga kalau ngasih tips ke supir taksi atau pengantar makanan pesanan dengan cara membulatkan jumlah nomimalnya, tanpa kembalian atau kukasih sekian dollar tambahan tanpa minta kembalian.

    ReplyDelete
  5. dydy wrote on Jul 24
    ah...tips... saya sama dengan Indres...ga suka budaya tips ini karena ga jelas...
    ketidakharusan itu yang bikin ga jelas.

    Minggu kemaren aku ke Mie Jakarta, waktu bayar ya bayar aja sesuai yang di bon. Waktu mau keluar, dikejar sama pelayannya "Mbak, ini belum termasuk tips lho". Buatku yang ga biasa makan di luar, ngapa2in di luar, nggak biasa ngasih tips, nggak ngasih tips kemaren itu karena memang ga tau. Katanya nggak harus, tapi kenapa sampe dikejar?

    -----------------------------

    Bisa dimengerti kalau kamu kurang ngerti soal tips, Dyah. Patokannya begini aja, kalau kamu menerima pelayanan jasa yang orangnya menunggu mejamu, ngurus pesananmu dll, berarti kamu mesti kasih tips. Kalau ke restorannya yg kamu buang sampahmu sendiri, yang kamu pesan makanan tidak perlu pakai ditunggui sama pelayan, berarti nggak pakai kasih tips. Sepertinya kalau yg pakai acara mengejar pelanggan itu kalau pelayannya di resto Malaysia atau Indonesia. Mereka biasanya merasa berhak dapat tips. Kalau di resto China yang jenisnya buffet, pelayannya rata2 cuek aja ditinggalkan tips atau nggak.Kalau di restoran Jepang atau Korea, kamu harus ngasih tips, soalnya lihat dari harga makanannya aja, mestinya tips itu sesuatu yg menyatu sama "feature" dari jenis restorannya.

    ReplyDelete
  6. wayanlessy wrote on Jul 24
    Saya termasuk yg sering bingung dgn jumlah tips. Karena tiap2 negara dan layanan berbeda-beda. Akhirnya kadang sering juga tanya2 dulu sebelum pergi ke satu tempat dengan layanan jasa. Jika di Amerika tips itu sangat penting, karena kebanyakan gaji tetap yg diberikan employer kecil, 'status' tips itu juga merupakan penghargaan yg diberikan pada pelanggan. Jadi saya suka kepikiran sekali kalau mau makan di luar atau ketempat2 yg dengan pelayanan jasa *efek kebanyakan baca Waiter Rant ;P*
    http://en.wikipedia.org/wiki/Waiter_Rant
    Tapi ekstrim bertolak belakang dari Amerika, di Jepang tips terbuka itu tabu. Bahkan untuk restoran tradisional yg masih memegang teguh tradisi, mereka insulted kalau diberi tips. Karena melayani dengan sebaik mungkin adalah bentuk ketulusan hati dan art mereka, bahkan kepuasan pelanggan adalah bagian dari harga diri mereka.
    Di Singapura, tips tidak dianjurkan. Tapi dalam prakteknya, tips diharapkan juga.
    Kabarnya, sekarang di Cina juga sudah mulai tinggi standar tips-nya ?

    ------------

    Sebaiknya memang begitu kan, Les. Namanya juga sedang di negara orang, jadinya mesti tahu aturan mainnya di situ. Mau kasih tips atau tidak kebiasaannya, kita mau nggak mau harus siap.

    ReplyDelete
  7. miapiyik wrote on Jul 24
    Kalau di salon, karena puas Dian. Ngga ada patokan 25persen sih. Tapi kalau hair spa, enak dipijat2 kepala, bahkan kalau kenal kapsternya, suka dikasih ekstra pijat punggung. Nah, tips itu utk menghargai yg ekstra2 tanpa diminta.

    Di resto fine dining,sushi, barulah aku meninggalkan tips, tapi di resto Sunda/makanan Indonesia, dimana termasuk pelayanan 15persen, tanpa tips

    ReplyDelete
  8. squishsquash wrote on Aug 1
    Tradisi tipping ini emang special ya Di kalo di US, aku juga merasakan nya saat masih di California. :)

    -------------

    Aku juga mengalami itu dikasih tips karena penghargaan pelanggan. Senang rasanya ya?

    ReplyDelete
  9. tintin1868 wrote on Jul 25
    itu pelayan yang terakhir, kebangetan ya.. udah kasar masih minta tips? idih deh pengen jitak..

    mmhh belajar dari mamababe sih.. kalu inep di hotel, ku juga suka kasih tips, taroh di tempat tidur, 20ribu saja.. apalagi ku inepnya lebih dari 3 hari misalnya.. kan sudah dibersihin kamar juga bikin kita lebih nyaman.. tapi tergantung hotel..
    kalu di resto cepat saji jarang kasih tips.. palingpaling kembalian receh dowang..
    kalu di salon iya baru kasih tips beneran, apalagi suka sama tukang potong.. ku bete sama salon yang tukang potong, tukang cuci, eh tukang ngeblow itu orangnya bedabeda, jadi kasih tipsnya ke tiga orang gitu? idih bete banget deh.. mending ga ku kasih tips.. jadi kalu ke salon udah yakin ketemu satu orang saja, langganan sama dia.. diurus dari cuci, creambath, potong, blow udah sama dia.. enak deh, tinggal kasih tips ke dia.. malah bisa dipanggil ke rumah..
    tukang pijit baru kasih tips..

    ReplyDelete
  10. gw juga biasa kasih tips

    supir taxi, cafe2, salon (dan bener tuh Yan, di salon bisa untuk 3 org yg beda, tapi kisaran jumlahnya beda2 sesuai pelayanan), delivery man, dan ke pihak2 pemberi jasa yang gw rasa pantas utk diberi tips, krn menurut gw tips itu lumrah yaaaa, gw kasih karena puas atas pelayanan, atau malah kasihan..hehehe...

    ReplyDelete