Welcome to My Sanctuary

If you are a dreamer, come in.
If you are a dreamer, a wisher, a liar,
A hope-er, a pray-er, a magic bean buyer...
If you're a pretender, come sit by my fire.
For we have some flax-golden tales to spin.
Come in!
Come in!


(INVITATION - Shel Silverstein)
Showing posts with label New Haven. Show all posts
Showing posts with label New Haven. Show all posts

Wednesday, October 2, 2013

Mendaki Si Raksasa Tidur

Di negara bagian dimana kami tinggal, Connecticut, ada beberapa pegunungan dan taman alam yang bisa dikunjungi gratis atau dengan biaya sedikit. Salah satunya dan yang termasuk dekat letaknya dengan tempat kami tinggal diberi julukan SLEEPING GIANT. Nama sebenarnya adalah Mount Carmel dan dari kejauhan terlihat seperti seorang raksasa yang sedang tidur. Itulah kenapa Mount Carmel punya julukan populer "Sleeping Giant". Sleeping Giant memiliki jalan alam sekitar 2 miles menuju puncak gunung, dimana terdapat sebuah bangunan berlantai 4 yang menjadi tempat untuk melihat sekeliling (look-out tower). Di seberang Sleeping Giant berdiri sebuah perguruan tinggi bernama Quinnipiac University. Pegunungan ini menjadi state park pada tahun 1924 dan merupakan tempat orang mendaki, mengadakan piknik, meneliti alam, memancing dan yang pasti bersenang-senang melihat pemandangan 

Hari Minggu dua pekan lalu, kami sekeluarga memutuskan untuk mengunjungi Sleeping Giant State Park. Sesudah anak-anak selesai dengan sekolah agama mereka, kami mendatangi taman ini. Taman dibuka dari jam 8 pagi sampai senja dan biaya masuknya per mobil sebesar $9. Sewaktu kami ke sana, banyak mobil parkir yang menandakan banyak pengunjung yang ada di situ. Sekelompok orang terlihat ramai di tempat piknik. Ada yang sedang memasak makanan di tempat yang dibentuk seperti panggangan, ada yang sedang mengobrol, dan yang bersiap-siap untuk mendaki. Ada beberapa pilihan jalur pendakian yang diwakili beberapa warna yang berwujud anak panah atau tanda lingkaran yang dicat ke atas batu atau batang pohon. Meski hutan kecil di Sleeping Giant termasuk rapat, tapi tanda-tanda ini masih bisa terlihat jelas saat masih terang. 





Kami memilih jalur mendaki yang mudah, melewati jalanan berkerikil yang makin lama makin mendaki dan beberapa kali berkelok curam. Di sepanjang perjalanan kami berpapasan dengan orang lain yang sedang mendaki atau menuruni gunung. Selain kami ada juga keluarga lain yang membawa anak-anaknya yang masih kecil. Mereka berhenti untuk mencari dan mengamati sesuatu di jalan. Kalau kami memilih jalur yang lebih sulit, pendakian kami akan melewati batu-batu besar atau jalan tanah yang dilewati akar pohon atau batu-batu kecil yang menyerupai undakan. Selama pendakian, saya minta anak-anak untuk mencermati sekeliling mereka. Di beberapa tempat terlihat bunga aster liar tumbuh dan bermekaran, juga bunga liar berwarna kuning. Anak-anak biasanya senang sekali kalau bisa menemukan binatang apapun di saat mendaki atau menuruni gunung. Waktu itu si bungsu menemukan "slug" atau sebangsa bekicot berwarna oranye dan anak-anak langsung bersemangat mencari binatang jenis lainnya. 




Setelah beberapa lama kami mendaki Sleeping Giant, sampailah kami ke puncak gunung. Bagian itu berupa tempat terbuka yang pusatnya adalah sebuah bangunan terbuat dari batu yang berupa sebuah menara. Menara itu berlantai 4, memiliki lorong-lorong yang bagian lantainya rata dan mendaki. Lorongnya hanya bisa dilewati satu orang dan di lantai 2 dan 3 ada ruangan kosong yang luas. Ada beberapa jendela di tiap sisi bangunan yang diberi teralis dengan motif tertentu, dan ada yang menyerupai sarang laba-laba. Bangunan menara itu berbau lembab dan terlihat rembesan air di dindingnya juga sedikit genangan air di lantainya. Kami berjalan naik ke atas menara yang merupakan tempat terbuka yang dari keempat sisinya kita bisa melihat pemandangan kota New Haven dan daerah Long Island (pantai dan laut). Udara segar di atas menyambut kami dan juga sinar matahari siang menjelang sore yang hangat. Mungkin nanti saat musim gugur tiba, kami akan kemari lagi untuk melihat hutan di Sleeping Giant berubah warnanya.









Monday, September 30, 2013

Menonton Konser Yale Philharmonia Orchestra

Setiap kali ada kesempatan menonton gratis penampilan para pemusik dari Yale School of Music, kami sekeluarga pasti antusias untuk menghadirinya. Program gratis ini merupakan bagian dari penampilan berkala yang diadakan yale School of Music untuk mengenalkan para mahasiswanya juga professor atau gubahan-gubahan lama yang jarang sekali ditampilkan, atau gubahan yang baru lahir. Buat kami, datang ke konser yang menampilkan sekumpulan orang muda berbakat terutama pemain musik dengan beragam kepandaian, jadi program khusus keluarga. Karena ketiga anak kami belajar dan mendalami musik, maka hadir di sebuah konser terutama yang menampilkan karya-karya para penggubah lagu yang besar namanya dan sulit gubahannya, bisa membuka wawasan mereka dan menambah keinginan mereka untuk berlatih lebih giat. Kami beruntung tinggal di dekat perguruan tinggi seperti Yale University yang program musiknya berkelas dunia. Kegiatan ketiga anak kami dalam bidang musik pun tidak jauh dari beberapa program yang diasuh atau dirancang oleh Yale School of Music. 

Hari Jumat 2 minggu yang lalu, saya, suami dan si sulung, menghadiri konser dari Yale Philharmonia Orchestra di gedung bernama Woolsey Hall di kota New Haven. Beberapa pemain yang terlibat dalam orkestra ini adalah guru musik anak-anak saat mereka berlatih dengan Yale School of Music selama liburan musim panas kemarin. Itulah kenapa si sulung termasuk yang paling antusias untuk datang ke konsernya. Konser dimulai pukul 8 malam dan kami tiba di sekitar gedung untuk mencari parkir setengah jam sebelum konser dimulai. Begitu memasuki lobby Woolsey Hall, kami meneruskan menuju bagian rotundanya, dimana beberapa mahasiswi mempersilahkan para penonton untuk masuk (disebut "usher") dan sebagian membagikan program konser. Program konser berisi nama dari orkestra yang tampil, lalu nama-nama para konduktor, diikuti dengan nama gubahan dan penggubahnya. Saat orkestra kemarin, Yale Philharmonia Orchestra membawakan beberapa gubahan karya Richard Wagner, Ludwig Van Beethoven dan Igor Stravinsky. Ada pemusik tamu, yaitu professor piano bernama Boris Berman yang menampilkan Piano Concerto karya Beethoven dengan menakjubkan. Konser berakhir saat sederetan bagian dari gubahan Stravinsky selesai diperdengarkan dan penonton langsung menyambut meriah dengan tepuk-tangan, sorakan "bravo" dan "standing ovation" yang cukup lama. Sungguh penampilan yang penuh semangat dan sangat jempolan.

Saya ingin menguraikan aturan yang harus dipatuhi saat menghadiri konser musik klasik. Kami sekeluarga belajar mengetahui aturan tidak tertulis ini karena sudah beberapa kali menghadiri recital atau konser anak-anak. Hal-hal yang harus diingat adalah sebagai berikut:

1. Pastikan berbagai macam benda elektronik yang kita bawa dimatikan atau dipasang untuk bergetar saja.

2. Kalau mau mengambil photo, lakukan sebelum acara mulai atau saat ada intermission atau waktu jeda memasuki babak selanjutnya. Jangan pernah mengambil photo saat konser berlangsung (kecuali diperbolehkan), apalagi menggunakan flash atau blits.

3. Saat membaca program dan melihat ada nama gubahan yang diikuti dengan angka Romawi I, II atau III dan seterusnya, itu berarti ada Movements atau bagian gubahan yang bisa dimainkan sendiri per bagian atau bersama. Aturannya adalah menunggu sampai semua Movements dimainkan baru kita bertepuk-tangan. Biasanya kita akan tahu saat sang konduktor berhenti memimpin konsernya.

4. Sewaktu intermission berlangsung yang biasanya 10-15 menit, usahakan segera ke kamar kecil dan makan atau minum sedikit. Karena saat konser berlangsung, penonton dilarang keras makan atau minum dan karena konsernya bisa lama ada baiknya makan atau minum sedikit. Itulah kenapa ada baiknya membawa permen terutama yang mint.

5. Sesudah konser selesai, sangat dianjurkan untuk mengemukakan kesukaan kita lewat teput tangan yang meriah, berdiri menghormati sang konduktor dan para pemain orkestra dan/atau mengelu-elukan mereka dengan bersorak "bravo".


Berikut adalah beberapa photo yang saya ambil sebelum konser berlangsung.


Bagian panggung Woolsey Hall yang dibangun tahun 1901, dimana Newberry Memorial pipe organ berada.



Langit-langit Woolsey Hall yang menawan.



Bagian kiri balkon di lantai dua. 



Para anggota Yale Philharmonia Orchestra terdiri dari mahasiswa dan mahasiswi yang mengambil program S2 dalam bidang musik, sedang melakukan pemanasan dan menyamakan suara.



Tuesday, June 11, 2013

Festival Seni Audubon Arts on the Edge

Memperkenalkan seni itu bisa bermacam-macam caranya. Salah satu yang dilakukan oleh New Haven Art Council adalah mengadakan acara tahunan yang biasanya jatuh pada bulan Juni, bernama AUDUBON ARTS ON THE EDGE, yang tahun ini berlangsung hari Sabtu lalu. Lokasi dimana acara ini digelar adalah Audubon Street yang termasuk ke dalam daerah seni di New Haven. Di jalan ini berdiri sekolah musik anak-anak, Neighborhood Music School (NMS), juga New Haven Ballet, Educational Center for the Arts (ECA), dua toko musik dan Creative Arts Workshop. Bisa dibilang, di Audubon Street itulah, berbagai kegiatan seni berlangsung untuk rupa-rupa kalangan. Bagi yang tertarik untuk belajar memainkan alat musik dan memperdalam permainan mereka, bisa ke NMS atau ECA. Bagi yang ingin belajar menari, ballet, menyanyi, dan drama, juga bisa ke dua tempat itu. Sedangkan kalau seni visual dengan media seperti kertas, kayu, tanah liat, logam, dll, bisa mendatangi Creative Arts Workshop untuk belajar. Untuk saya pribadi, tempat ini seperti surga bagi seorang seniman. Acara ini benar-benar padat dari pukul 12 siang saat dimulai sampai 5 sore dengan bermacam kegiatan seni, seperti konser biola dari murid-murid NMS, jazz band dari ECA atau sebuah SMA di New Haven, pertunjukkan ballet, panggung boneka dan lain-lain. Hal lainnya yang turut meramaikan adalah kegiatan membuat prakarya untuk anak (juga orang tuanya), yang juga beragam jenisnya.

Audubon Arts on the Edge diadakan seperti sebuah "block party", yaitu dengan cara menutup seluruh jalan di seputar satu block di Audubon Street. Acara ini bersifat kekeluargaan dan berisi hal-hal yang menghibur sekaligus mendidik terutama untuk anak-anak. Karena acara ini merupakan sebuah pesta (block party), ada beberapa sajian makanan ringan yang bisa ditemui, seperti kettle popcorn, Italian ice dll. Putri sulung kami dan si bungsu pernah turut mengisi acara Audubon Arts ini bersama group biolanya beberapa kali. Jalanan dimana acaranya berlangsung dicat warna-warni atau seperti sebelumnya dengan warna biru, untuk dijadikan tempat menggambar dengan kapur. Berbagai seniman dari mulai yang baru belajar mencoret-coret, sampai yang hasil gambarnya mengagumkan, turut unjuk gigi. Selain itu ada beberapa stand yang mewakili beberapa organisasi seperti dua museum yang ada di kota New Haven, New Haven Public School, maritime aquarium, supermarket organic, dan beberapa bisnis yang berada di Audubon Street. Masing-masing stand memamerkan benda-benda menarik yang bisa disentuh dan dicoba. Misalkan kegiatan "petting instrument", atau menjajal memainkan alat musik. Kegiatan ini sangat menarik bagi anak-anak kecil yang penasaran untuk memainkan sebuah biola atau flute, misalnya. Barang-barang lainnya bisa jadi berupa dua pasang paru-paru yang menggambarkan sebuah paru-paru sehat dan yang sakit akibat kebiasaan merokok, atau kerangka manusia dan binatang, bahkan binatang hidup dari laut, seperti bintang laut atau keong yang kesemuanya boleh disentuh. Kegiatan tahunan ini bebas biaya dan selalu ramai dengan pengunjung, yang berlangsung tanpa perduli hujan turun. Karena the show must go on!


Seorang gadis remaja sedang menggambar di jalanan (2013), si tengah dan si bungsu asyik menggambar dengan kapur (2011) dan si bungsu dengan pelanginya (2013)





Dua pasang paru-paru yang boleh dipegang dan diperiksa (pengunjung harus memakai sarung tangan plastik), memperlihatan paru-paru sehat dan yang sakit karena rokok.


 

Kegiatan petting instruments, memberikan kesempatan anak-anak untuk menjajal bermain sebuah alat musik.



Dua seniman sedang memperagakan kepandaiannya, seorang pemahat dan seorang seniman gambar.




Ajang membuat prakarya, menghias hoola hoop (2011) dan bermain hoola hoop bersama (2013)




Bermacam-macam pertunjukkan seni.






Hiburan untuk anak-anak kecil.




Makanan khas yang ada di Audubon Arts, Italian ice dan kettle corn.




Wednesday, April 3, 2013

Dilema Memilih SMA

Minggu lalu hari Rabu, saya putuskan untuk mendatangi kantor program New Haven Magnet School di Meadow Street. Sudah tanggal 27 Maret dan surat keputusan apakah putri sulung kami diterima atau tidak di sekolah yang kami lamar, belum datang juga. Di kota tempat kami tinggal hanya ada satu SMA dan bukan yang bagus mutunya. Sehingga kami harus mencari SMA lain di kota tetangga dengan cara mengajukan lamaran untuk program magnet school. Sebenarnya ketiga anak kami sudah masuk dan mengikuti program ini semenjak mereka masuk sekolah dasar di luar district. Program magnet school ini diadakan untuk menampung minat murid-murid dari berbagai kota di luar district sekolah-sekolah yang biasanya berada di kota terbesar. Karena itulah dijuluki "magnet school" yang bertujuan menarik berbagai murid dari beragam lingkungan, latar belakang budaya dan ras, yang berusaha memperoleh pendidikan maksimal dengan program dasar tertentu. Kami mengenal program magnet school ini saat si sulung masih berada di preschool. Social worker sekolah yang menganjurkan kami mendaftarkan Emily untuk bersekolah di sekolah di luar district. Karena menurutnya, dengan kemampuan Emily, cocoknya bersekolah di sekolah di kota tetangga yang lebih banyak menawarkan banyak kesempatan berkembang. Begitu putri kami selesai masa preschool-nya, kami mendaftarkan dia ke program magnet school. Sayangnya, dia tidak mendapatkan tempat, jadi untuk bersekolah TK, putri kami pergi ke sekolah di daerah kami, yang tepat di seberang apartemen. Tahun kedua kami mendaftarkan Emily ke program magnet school di kota New Haven, dia mendapatkan tempat untuk kelas 1 di Davis Street Elementary School, sekolah pilihan kedua kami.

Kembali lagi ke cerita saya yang menuju kantor magnet school untuk mendapatkan berita mengenai diterima atau tidaknya putri sulung kami di SMA yang kami lamar. Saya sendiri ikut was-was karena program magnet school ini adalah bersistem lotere yang hasilnya belum tentu sesuai dengan harapan. Kami harus memilih 3 sekolah dimana hirarkinya sesuai dengan pilihan yaitu sangat diharapkan, diharapkan dan kurang diharapkan. Strategi meletakkan pilihannya ini yang tadinya menjadi dilema. Sebab masing-masing SMA memiliki latar belakang dan penekanan program pendidikan yang berbeda. Akibat sistem lotere inilah, putri kami stress, juga kami,  karena kalau sampai dia mendapatkan pilihan kedua atau ketiga, berarti dia tidak akan mendapatkan pelajaran musik atau seni lainnya. Sekolah pertama yang kami pilih mempunyai penekanan pada pelajaran berbagai seni, dan Emily sebagai pemain biola, sangatlah berharap dia bisa temasuk dalam string program-nya. Pilihan SMA ini harus sesuai dengan keinginan si anak untuk mempelajari pendidikan tertentu dan berhubungan erat dengan jenis kuliah yang nanti akan dilanjutkan begitu lulus. Pilihan sekolah kedua menekankan pada IPA dan sekolah ketiga pada pendidikan IPS, seperti ekonomi dan hukum. Ketiga sekolah termasuk yang baik mutunya di kota New Haven dengan berbagai program penunjang yang kaya, serta organisasi pendukung yang kuat.

Saat saya akhirnya berhadapan dengan petugas di kantor magnet school, dia memberitahu kalau putri kami diterima penuh di pilihan sekolah pertamanya, yang program dasar sekolahnya adalah seni. Diterima penuh berarti, putri kami dipastikan masuk di SMA ini. Karena ada juga kemungkinan diterima tapi masuk dalam daftar tunggu. Daftar tunggu ini bisa jadi panjang dan kemungkinan besar hanya yang mendapatkan nomor 1-5 saja yang bisa mendapatkan kesempatan masuk. Itu pun kalau ada anak yang diterima lalu mengundurkan diri dan keputusan daftar tunggu itu bisa baru muncul saat liburan summer habis. Itulah sebabnya kami dan putri kami was-was dan sempat takut kalau hasil loterenya tidak sesuai harapan. Meskipun SMA yang menjadi favorit kami dan jadi pilihan pertama program terkuatnya adalah seni, tapi bukan berarti bidang akademik lainnya tidak dihiraukan. Masing-masing SMA memiliki program persiapan masuk perguruan tinggi dan standarnya berbeda. SMA putri kami nanti termasuk yang banyak jenis program persiapannya dan kalau dilihat dari segi ranking hasil lulusannya yang masuk perguruan tinggi, nomor 2, dibawah SMA yang menjadi pilihan kedua kami. Hasil lotere yang akhirnya saya dapatkan lewat petugas magnet school itu segera saya sampaikan ke putri kami, yang langsung berteriak kegirangan, lalu menangis haru di pundak saya, ditonton oleh dua gurunya dan teman-temannya yang saat itu sedang bubar sekolah. Lega sekali rasanya beban pikiran kami yang bermula dari awal Januari saat kami menyampaikan lamaran untuk ikutan lotere magnet school dan akhirnya mendapatkan jawabannya di akhir Maret. Harapan kami, semoga SMA pilihan kami ini bisa menjadi tempat terbaik bagi putri kami menimba ilmu dan meningkatkan prestasinya.

Tuesday, February 5, 2013

Eli Whitney Museum & Workshop Yang Menawan

Di kota New Haven, diantara kerimbunan pohon yang hampir masuk perbatasan dengan kota tetangga, Hamden, terdapat sebuah tempat menarik bernama Eli Whitney Museum & Workshop. Kesempatan pertama berkunjung ke tempat menarik ini adalah saat anak-anak diundang ke perayaan ulang tahun teman sekelas si bungsu. Eli Whitney Museum & Workshop memiliki tempat pelatihan dan berkarya yang keutamaannya mengajarkan mekanik dan permesinan. Untuk undangan ulang tahunnya, anak-anak diajak untuk membuat karya dari kayu, berupa kotak berwujud gajah.Meskipun nama tempatnya memakai kata "museum", jangan membayangkan seperti museum yang barang-barang yang dipamerkan ada dalam gedung. Museum unik ini memperlihatkan kerja dari Mill River yang menggerakkan kincir yang menjadi sumber tenaga industri pada tahuan 1800-an di New Haven. Eli Whitney adalah tokoh terkenal di New Haven yang turut mengembangkan dan memajukan industri di negara bagian Connecticut melalui penggunaan tenaga air.

Mengunjungi Eli Whitney Museum & Workshop berarti menikmati pemandangan alamnya yang asri dan cantik di musim semi dan musim gugur. Ada sebuah jembatan tertutup berwarna merah yang menghiasi laham museum. Jembatan ini dibangun berdasarkan pada rancangan Ithiel Town. Jembatas asli dibangun tahun 1820 dan dinamakan The Town Bridge, yang menggunakan teknik "lattice truss" dari ide Ithiel Town. Sayangnya jembatan asli rusak karena banjir dan pada tahun 1979, jembatan pengganti yang mencontoh teknik yang sama dibangun oleh Eli Whitney Vocational-Technical High School. Di lahan yang sama terdapat air terjun yang digunakan untuk menggerakkan mesin-mesin yang ada di Armory. Sungai yang mengalir bernama Mill River merupakan sumber tenaga yang dipergunakan Eli Whitney. Selain itu terdapat bangunan berupa barn yang dijadikan tempat untuk pelatihan atau membuat ketrampilan. Kelas ketrampilan dibuka untuk umum dan bisa dipergunakan oleh sekolah.











Kelas ketrampilan dari Eli Whitney Museum & Workshop menekankan pada prakarya dari bahan kayu yang bisa digerakkan oleh mesin sederhana. Saat kami berada di kelas ketrampilannya, ada beberapa remaja yang siap sedia membantu anak-anak yang butuh bantuan. Keselamatan menjadi hal yang utama, sebagai contohnya anak-anak diminta memakai goggle atau kacamata khusus yang bisa melindungi mata mereka saat membuat prakarya. Kelas ketrampilannya disediakan berdasarkan umur dengan kesulitan yang beragam, serta tema yang menarik.





.