Welcome to My Sanctuary

If you are a dreamer, come in.
If you are a dreamer, a wisher, a liar,
A hope-er, a pray-er, a magic bean buyer...
If you're a pretender, come sit by my fire.
For we have some flax-golden tales to spin.
Come in!
Come in!


(INVITATION - Shel Silverstein)
Showing posts with label historic America. Show all posts
Showing posts with label historic America. Show all posts

Tuesday, September 3, 2013

Sekilas Tentang Wilmington: Jasper Crane Rose Garden dan Bringhurst Fountain

Negara bagian Delaware adalah negara bagian pertama Amerika Serikat. Ini karena pada tanggal 7 Desember 1787, perwakilan Delaware menandatangani United States Constitution (UUD) dan kemudian menjadikannya negara bagian pertama dari negara baru bernama United States of America. Dalam sejarah terbentuknya Amerika Serikat, Delaware dengan ibukotanya Wilmington, merupakan bagian yang penting. Saat perayaan hari kemerdekaan Amerika tanggal 4 Juli yang baru lewat, saya dan keluarga memutuskan untuk berlibur dan mengunjungi kota Wilmington ini. Kota kecil di negara bagian yang termasuk mungil luasnya ini berjarak kurang dari 30 menit dari kota Philadelphia, ibukota negara bagian Pennsylvania. Kalau Wilmington dibandingkan dengan Philadelphia, berbeda sekali dari segi keramaian dan daya tariknya. Kota Philadelphia sendiri adalah kota tempat Declaration of Independence atau pencetusan kemerdekaan lahir pada tangal 4 Juli 1776. Saat perayaan Fourth of July, kota Wilmington seakan kota mati dan sepi sekali, berbeda dengan Philadelphia yang ramai dengan berbagai perayaan menyambut hari kemerdekaan Amerika. Bahkan restoran pun tutup saat Fourth of July di Wilmington.

Salah satu tempat yang kami kunjungi saat ke kota Wilmington adalah sebuah taman yang diurus negara bagian atau "state park" bernama Brandywine Park. Brandywine Park merupakan taman kota terbesar di Delaware dan mencakup luas 178 acres atau 72.034 hektar. Letak taman ini sepanjang 1 mile atau 1,6 km di pinggiran Brandywine Creek. Wilmington Board of Park Commissioners membentuk taman kota ini pada tahun 1885 dan Brandywine Park terdiri dari 3 bagian yang berada berdekatan dengan daya tarik yang unik masing-masing:

- Brandywine Zoo, sebuah kebun binatang yang binatang penghuninya cukup menarik dan merupakan kebun binatang satu-satunya di Delaware. Kebun binatang ini adalah kebun binatang terkecil yang pernah kami kunjungi.

- Jasper Crane Rose Garden dan Bringhurst Fountain; dan
- Josephine Fountain yang dikelilingi pohon-pohon cherry blossoms. Sayangnya kami datang saat musim panas berlangsung dan bunga-bunga cherry sudah berhenti berbunga. 


Air mancur bernama Bringhurst Fountain yang dibangun pada tahun 1872 sudah berfungsi selama bertahun-tahun memberikan warga Wilmington air minum dan juga untuk kuda (penarik kereta). Pada tahun 2000, Jasper Crane Rose Garden diatur pengairannya dan kemudian ditanami dengan berbagai macam mawar sebanyak 450 bunga dari 52 jenis. Bringhurst Fountain yang merupakan simbol penghormatan pada Ferris Bringhurst, orang pertama yang memulai Wilmington Fountain Society, dipindahkan dari tempat awalnya di Jasper Crane Rose Garden ke dekat pinggiran sungai dan menjadi monumen (airnya tidak lagi keluar). Sewaktu saya berkeliling mengagumi taman mawar yang intim itu, bunga-bunga mawar belum banyak yang mekar. Beberapa mawar berwarna kuning dan merah muda terlihat di beberapa pohon. Burung-burung Robin terlihat banyak di situ, asyik mencari makan dan bercengkrama. Jasper Crane Rose Garden terlindungi oleh beberapa pohon besar yang teduh dan letaknya yang dekat dengan Brandywine Zoo, bisa menghibur siapapun yang ingin bersantai, terutama ibu yang kelelahan menemani anak-anaknya di kebun binatang.

Photo: Bringhurst Fountain  terlihat di kejauhan, berubah fungsinya menjadi sebuah monumen, bukan lagi sebuah air mancur.











Monday, July 15, 2013

Menguak Keindahan Sebuah Desa Bernama Bryn Mawr

Kira-kira sekitar 20 menit perjalanan mobil dari Philadelphia, ibukota negara bagian Pennsylvania, terdapat sebuah desa bernama Bryn Mawr. Meskipun namanya "Village of Bryn Mawr", jangan membayangkan sebuah tempat yang terdiri dari pertanian atau peternakan, dengan rumah-rumah sederhana. Begitu kami (saya, suami, beserta tiga anak) keluar di exit di insterstate (jalan antar state) yang menuju Bryn Mawr, kami disambut kerimbunan pepohonan yang menyerupai hutan kecil. Jalanan yang berliku-liku, naik-turun, dengan belokan yang kadang curam, mengantarkan kami tiba-tiba ke daerah pemukimannya. Daerah pemukiman ini berisi rumah-rumah indah nan mewah, dengan gayanya dari abad 18. Hampir semua rumah terbuat dari batu dan memiliki halaman yang luas dan asri. Berkali-kali kami berdecak kagum melihat deretan rumah dan taman yang ada di sisi kiri dan kanan jalan yang diselingi kerimbunan pohon dan semak-belukar. Tidak lama kemudian, kami sampai di jalanan yang akan mengantarkan kami ke tempat tujuan, Bryn Mawr College. Selamat datang di Village of Bryn Mawr! 

Photo: Papan nama Village of Bryn Mawr di jalan utama.



Kami berada di Bryn Mawr karena putri sulung kami akan tinggal di satu dari dua sekolah tinggi yang ada di desa ini, yaitu Bryn Mawr College. Bryn Mawr berasal dari bahasa Welsh yang artinya bukit besar. Daerah ini merupakan sebagian dari tanah yang dihadiahkan raja Inggris, King Charles II, pada William Penn di tahun 1681. Pada tahun 1683, seorang kaum Quaker bernama Rowland Ellis membeli 323,75 hektar tanah dari William Penn yang kemudian dijadikan tempat pertanian. Pada tahun 1858, Bryn Mawr yang tadinya berupa tempat pertanian, berkembang menjadi desa yang diberi nama Humphreyville, dan berkat perluasan jalur kereta api oleh Philadelphia dan Colombia Railway yang mendirikan "Main Line" yang menghubungkan kota Philadelphia dan Lancaster. Main Line ini merupakan jalur utama dan penting yang salah satu stasiun yang dibangun di situ adalah stasiun Bryn Mawr. Nama ini dipilih untuk dipakai sebagai nama stasiun kereta oleh sekretaris Philadelphia Railroad, John Lesley, pada tahun 1869, dan bukan Humphreyviller. Kemudian di desa ini berdiri dua sekolah tinggi, Haverford College yang didirikan pada tahun 1833 dan Bryn Mawr College yang didirikan pada tahun 1885. Bryn Mawr College merupakan sekolah tinggi pertama khusus wanita yang menawarkan jenjang pendidikan dari tingkat S1 sampai Doktorat. Di kampus Bryn mawr College inilah, putri kami tinggal selama seminggu di asrama mahasiswinya dan memperdalam pelajaran musiknya (bermain biola). 

Photo: Gedung Goodhart Hall di Bryn Mawr College



Kami sampai di Bryn Mawr hari Sabtu pagi dan sesudah mengantarkan putri kami ke asramanya dan mengurus keperluan lain-lain perihal summer music camp-nya, kami berjalan-jalan keliling kampus Bryn Mawr College yang anggun dan indah. Keesokan harinya, kami kembali ke Bryn Mawr (kami menginap di kota lain tak jauh dari situ), untuk menelusuri pusat kotanya. Saat itu Minggu pagi menjelang siang dan Bryn Mawr sepi tanpa kesibukkan. Banyak toko tutup, bahkan restoran pun hanya satu yang buka saat itu. Kami memarkir mobil di jalan utama dan berjalan kaki memperhatikan bangunan demi bangunan yang menghiasi pusat bisnis Bryn Mawr. Beberapa bangunan berupa gedung tua yang kemungkinan berdiri dari tahun 1800-an berupa ruko terlihat masih apik dan menarik. Sebuah etalase yang menawarkan barang-barang antik memamerkan furnitur tua berkelas, sementara toko sebelahnya menawarkan bahan, pola dan kelas untuk ketrampilan crosstitch. Di jalanan utama Bryn Mawr itu terdapat dua toko biola (dan cello) yang memperlihatkan adanya kebutuhan dari sekolah musik di dua sekolah tinggi yang saya sebut sebelumnya, yang cukup tinggi. Tidak ada gedung tinggi lebih dari 3 lantai di jalan itu. Suasananya yang damai dan daerahnya yang bersih, sangat mendukung siapapun yang bersekolah di situ, dan tentu saja membuat saya langsung jatuh hati pada keindahannya.


Photo: Pemandangan di daerah bisnis dan jalan utama Bryn Mawr.
















Sumber bacaan: Bryn Mawr History

Thursday, May 30, 2013

Ayo Mampir ke Asa Knight Store!

Bagian luar gedung bercat putih itu layaknya bangunan lain yang dibangun pada tahun 1810. Bangunan ini tadinya berdiri di kota Dummerston di negara bagian Vermont, yang lalu dipindahkan pada tahun 1972 ke Old Sturbridge Village dan menjadi bagian dari live museum ini. Pada tahun 1838, gedung yang tadinya hanya satu lantai kemudian ditambah bangunannya menjadi dua-setengah lantai. Masyarakat di New England terutama di kota Dummerston bisa memperoleh kebutuhan mereka melalui toko yang dibuka Asa Knight pada 1 April 1826 tersebut dengan cara kredit. Pada saat itu uang tunai sangatlah terbatas, sehingga hubungan jual-beli dilakukan lewat tukar-menukar, itulah yang dimaksud dengan kredit itu. Misalkan, keluarga A membutuhkan kain sutra dan rempah-rempah, maka keluarga A bisa mendapatkannya dengan menukar mentega atau barang buatan mereka seperti sapu atau sabun, dengan kebutuhan mereka di toko Asa Knight. 





Toko milik Asa Knight ini kelihatannya saja seperti toko biasa tempat para pembeli mendapatkan kebutuhannya, tapi toko ini sebenarnya merupakan gerbang pengenalan dunia baru di Amerika Serikat dengan berbagai tempat lewat barang-barang yang dijual.Di toko Asa Knight kebanyakkan barang adalah barang impor dari segala penjuru dunia. Kain-kain seperti broadcloth wool dari Inggris, katun dari Inggris, Perancis dan India, juga sutra dari China dan Perancis. Selain itu toko ini juga menawarkan rempah-rempah, gula, kopi, teh dan pewarna dari Arab, China, Asia Barat, Yunani dan Amerika Selatan. Sedangkan barang-barang yang dibuat secara lokal juga ada di situ, seperti berbagai alat masak dan berkebun, tembikar, buku, produk kertas, kulit, sepatu, serta benih atau biji-bijian untuk bertani yang berasal dari daerah New England. Lihat saja bagaimana bagian dalam toko milik Asa Knight di Old Sturbridge Village yang dibuat dan disusun sesuai bagaimana fungsinya di tahun 1830. Barang-barang yang berjajar dan tertata rapi di lemari kaca dan beberapa rak memperlihatkan kebutuhan masyarakat pada saat itu di New England. Seandainya anda datang ke toko ini, kira-kira apa yang anda mau beli?







Wednesday, May 29, 2013

Berkenalan Dengan Berbagai Kerajinan di Old Sturbridge Village

Saat memasuki suasana desa Old Sturbridge Village, berbagai macam suara dan bau menyambut. Salah satunya adalah bunyi dan bau dari sebuah rumah kecil berlantai satu, yang ternyata adalah TIN SHOP. Di tahun 1800-an, kerajinan yang terbuat dari timah termasuk laris karena bahannya yang tidak mudah karatan dan termasuk aman untuk dipakai yang berhubungan dengan makanan. Saat saya dan kelima anak yang saya kawal memasuki rumah mungil yang lebih tepat disebut studio ini, seorang bapak tua menyapa kami. Beliau menerangkan bagaimana timah dipakai menjadi terkenal dan dipakai untuk berbagai macam perlengkapan. Beliau juga memberikan demonstrasi pembuatan cetakan kue dari timah, yang sampai sekarang pun masih berlaku. Di dalam tin shop tersebut, terlihat berbagai macam alat yang membantu pembuatan macam-macam bentuk dari timah, seperti cetakan kue, tempat lilin, cangkir atau teko, dan lentera. Perhatian saya tertuju pada lentera timah yang wujudnya sederhana, tapi hiasan yang berupa lubang-lubang di sekelilingnya sangat cantik. Saya bisa membayangkan saat lentera ini dinyalakan, cahaya yang berasal dari lilin itu menembus lubang-lubang tadi dan menghasilkan bayangan yang indah.


Old Sturbridge Village tin shop
The tinshop at Old Sturbridge Village


 Setelah berkeliling mendatangi beberapa rumah tua di Old Sturbridge Village, kami mengunjungi tempat pengrajin lain, berupa BLACKSMITH. Blacksmith adalah sebutan untuk tukang pandai besi. Berbeda dengan tin shop, blacksmith lebih suram suasananya dan bau dari oven tempat pengecoran dan pencetakan barang-barang besinya lebih menyengat. Di tempat pengrajin besi itu juga ada pemandu dan pengrajinnya yang memberikan demonstrasi mempersiapkan besi untuk dibuat alat pertanian. Perbedaan lain dari blacksmith dan tin shop adalah, begitu masuk ke dalam ruangan blacksmith-nya, terasa panas. Karena bangunannya yang terbuat dari batu, yang seakan meredam panas dari api di tungkunya. Pada awal berdirinya Old Sturbridge Village, tempat blacksmith ini dibangun dari kayu, hingga akhirnya terjadi kebakaran, yang juga dialami oleh pengrajin pandai besi di jaman dulu. Sejak itu bangunannya dibuat dari batu.


The Blacksmith at Old Sturbridge Village
The blacksmith at Old Sturbridge Village


Perjalanan kami kemudian berlanjut ke tempat pembuatan tembikar atau gerabah. Di situ ada pula pemandu yang sekaligus juga pengrajin yang memperlihatkan pembuatan  tembikar. Berbagai macam hasil dari tanah liat berjajar di sisi ruangan. Sementara itu, sebuah tungku besar atau kiln ada di luar rumah tembikar tersebut, untuk membakar gerabahnya. Barang-barang yang dibuat oleh pengrajin baik itu yang berupa timah, besi atau tembikar, bisa dibeli di toko souvenir, yang semuanya dibuat di tempatnya langsung di Old Sturbridge Village.



Potteries - Old Sturbridge Village
Pottery kiln - Old Sturbridge Village


Tempat terakhir dimana sebuah kerajinan dikerjakan, yang kami datangi adalah sebuah CARDING MILL. Carding mill ini merupakan pusat untuk mengolah serat-serat alami, yang kemudian dipintal dan ditenun dan dijadikan kain. Peralatan yang ada di carding mill ini sangat memukau, karena mereka masih sangat baik kondisinya dan kemungkinan masih bisa digunakan. Saat itu tidak ada demonstrasi di situ, jadi saya kurang tahu mengenai bagaimana carding mill bekerja. Tapi dengan melihat peralatan demi peralatannya langsung, saya bisa membayangkan kesibukkan para pengrajin yang kemungkinan besar wanita, menguraikan serat-serat alami yang bisa jadi dari bulu biri-biri atau kelinci, atau serat tumbuhan seperti linen dari serat flax. Lalu serat-serat ini disatukan, dipintal dan ditenun. Sungguh perjuangan yang panjang dan luar biasa prosesnya untuk menciptakan selembar kain untuk dipakai seseorang.


Carding Mill - Old Sturbridge Village
The weaving machine circa 1800s - Old Sturbridge Village
Carding mill - Old Sturbridge Village

Tuesday, May 28, 2013

Cerita Dari Rumah Tua di Old Sturbridge Village

Sesudah membaca jurnal sebelumnya mengenai Old Sturbridge Village (OSV) yang merupakan outdoor museum, mari sekarang kita tengok bagian dalam dari beberapa rumah yang saya dan murid-murid yang saya kawal, sempat datangi. Karena saya tidak sempat memperhatikan di rumah yang mana saja photo-photo ini saya ambil, jadi tidak akan ada keterangannya. Tapi semua benda-benda berupa furniture, pecah-belah, sampai pernak-pernik lainnya adalah barang asli dari tahun 1700-1800 yang dipakai di New England saat itu. Beberapa rumah yang kami datangi antara lain: Salem Towne House yang tadinya berdiri di kota Charlton, Massachusetts, yang dibangun pada tahun 1796 dan dipindahkan ke OSV pada tahun 1952. Rumah keluarga Salem ini adalah contoh rumah keluarga berada yang memiliki halaman yang luas lengkap dengan gazebo dan taman yang indah. Rumah lainnya yang kami masuki adalah Parsonage, sebuah rumah yang diperuntukkan bagi pendeta atau pengurus gereja dan keluarganya. Gedungnya sendiri tadinya berdiri di kota East Brookfield, Massachusetts, yang dibangun pada tahun 1748 dan dipindah ke OSV pada tahun 1940. Lalu rumah berikutnya yang kami kunjungi adalah Fitch House yang didirikan tahun 1737 dan dipindah ke OSV pada tahun 1939.

Di dalam Fitch House ini anak-anak bisa menyentuh, memegang bahkan mencoba berbagai barang yang dipamerkan, seperti: pakaian, permainan, tidur di tempat tidur atau duduk di kursi, juga bermain di beberapa ruangannya, dan berkebun. Pada tiap rumah yang kami datangi, terlihat bagaimana kemampuan dari keluarga tersebut dalam hal keuangan, lewat barang-barang yang ada, juga dari ruangan di rumah tersebut. Rumah dari keluarga yang mampu atau berada, biasanya memiliki ruangan yang cukup banyak atau bertingkat bangunannya. Seperti Salem Towne House, ada ruangan makan resmi khusus untuk acara istimewa, dan ada juga ruangan makan biasa. Ada pula yang namanya parlor, tempat untuk menerima tamu, selain itu ada ruangan musik, dimana tuan rumah bisa menghibur para tamunya. Dapur di rumah keluarga berada besar ukurannya dan bisa berupa dua bagian, yaitu tempat untuk memasak dan tempat untuk menyimpan bahan-bahan makanan. Di dalam kamar tidur  juga terlihat kepribadian dari pemilik rumah dan orang yang menempatinya. Kami sempat mengagumi wallpaper asli di sebuah rumah yang masih terlihat bagus (perhatikan photo yang tampak wallpaper bergambar pohon). Mengunjungi Old Sturbridge Village selain menjadikan kami paham akan sejarah di New England, juga mendapatkan inspirasi terutama mengenai kehidupan di abad 1800.


Bagian dalam salah satu rumah, tangga menuju lantai dua, kamar tidur dan perapian dengan latar belakang wallpaper asli dari tahun 1700.

Inside Salem Towne House, Old Sturbridge Village


 Ruang makan resmi untuk jamuan acara istimewa

  Luxurious dining table, Old Sturbridge Village

 Music parlor, tempat tuan rumah menghibur para tamu dan menjamu dengan teh atau kopi.



Piano forte at the parlor, Old Sturbridge Village

Drawer chest atau kumpulan laci dengan latar belakang wallpaper antik

Old chest of drawers, Old Sturbridge Village

 Beberapa detail dari rumah pada abad 1800

Salem Towne House, Old Sturbridge Village

 
 Ruang makan yang berbeda, yang tidak resmi sifatnya

Dining table & chairs in 1830
 

 Lemari yang menyatu dengan dinding rumah, berisikan koleksi barang pecah-belah mewah milik nyonya rumah, yang biasanya digunakan untuk acara istimewa.


China cabinet, Salem Towne House

 Meja dan kursi untuk jamuan teh dan kopi

Tea time at Old Sturbridge Village

Ciri khas dapur keluarga berada di abad 1800


The 1800's kitchen at Old Sturbridge Village
The 1800's kitchen at Old Sturbridge Village

Kamar tidur anak 
 
Old bedding & chair, Old Sturbridge Village

Perlengkapan mencukur untuk pria di abad 1800

The 1800's man shaving kit