Salem, sebuah kota kecil yang dulunya merupakan pelabuhan penting saat pendatang dari Inggris baru saja membuka kehidupan di benua baru, mempunyai sejarah yang unik dan sangat menarik. Pendiri kota Salem, Roger Conant, datang dari Inggris bersama keluarganya dan pendatang dari Inggris lainnya yang berusaha mencari penghidupan yang lebih baik di Amerika pada tahun 1623. Pada tahun 1626 Roger Conant dipilih menjadi Gubernur pertama masyarakat Inggris yang ada di Salem. Dialah yang membangun rumah pertama di kota Salem yang sekarang menjadi sebuah jalan bernama Essex Street. Patung perunggu Gubernur pertama Salem ini berdiri dengan gagahnya menghadap Salem Common, sebuah lapangan besar yang dikelilingi pepohonan yang asri dan tepat di seberang bangunan yang tadinya sebuah gereja bernama the East Church yang dibangun tahun 1844 hingga 1846. Bangunan gereja bergaya Classic Gothic Revival itu sekarang menjadi Salem Witch Museum.



Berkunjung ke kota Salem di negara bagian Massachusetts, berarti harus mengunjungi tempat-tempat yang berkaitan dengan sebuah sejarah kelam kota ini. Mencari tempat-tempat bersejarah itu pun tidak sulit. Para pengunjung atau siapapun yang tertarik bisa mengikuti Heritage Trail yang berupa garis merah panjang di jalanan dan trotoar yang melewati tempat-tempat bersejarah tersebut. Kami memulai perjalanan menelusuri Heritage Trail dari Salem visitor center. Tempat pertama yang kami datangi adalah Salem Witch Museum, yang bangunannya terbuat dari batu berwarna coklat. Gedungnya sendiri dulunya sebuah gereja yang dirancang oleh seorang arsitektur dari New York, Minard Lafever. Dua ahli bangunan yang membantu memilih bahan batu untuk gereja ini adalah Henry Russell dan Benjamin R. White. Dari luar, museum ini sudah bisa menunjukkan kekokohannya dan keseramannya. Kami masuk ke museum saat baru saja buka, yaitu pukul 10 pagi. Bersama beberapa pengunjung lain, saya dan anak-anak dipersilahkan masuk menuju ruangan lapang yang gelap-gulita.
Pria muda dan tampan yang menyapa dan mempersilahkan saya dan anak-anak menuju ke ruangan sesudah lobby museum berjalan memakai tongkat penyangga. Hal itu menjadi perhatian kami karena ternyata pria berambut pirang ini kaki kanannya tinggal separuh, sebagian paha, lutut dan bagian bawah kakinya tidak ada. Itu cukup menambah kemisteriusan suasana di ruangan besar museum, dan juga kekaguman kami pada pria muda tersebut. Ruangan yang kami masuki itu berbau lembab layaknya bangunan tua yang sudah ratusan tahun umurnya. Sesudah kami menaiki beberapa anak tangga menuju sederetan kursi yang bercabang ke kanan dan kiri, kami semua duduk menunggu dengan antusias sekaligus bingung. Hanya ada dua pintu di rungan tersebut, pintu yang kami lewati pertama untuk masuk yang kemudian langsung ditutup begitu kami semua duduk, dan pintu kedua di pojok kiri ruangan dengan tanda EXIT merah. Meski ruangan itu gelap dan hanya ada sedikit saja penerangan, kami bisa melihat ada beberapa wujud di bagian atas yang mengelilingi kami. Kami menduga wujud-wujud itu berupa patung atau mannequin yang diletakkan sedemikian rupa untuk menggambarkan adegan demi adegan yang menceritakan kronologi peristiwa Salem Witch Trial.

Setelah menungu beberapa menit, tiba-tiba ada suara seorang pria lewat pengeras suara yang memenuhi ruangan. Suasana terasa mencekam karena keadaan yang sangat reman-remang, musik yang menjadi latar belakang narasi si pembicara dan isi dari narasi itu. Setiap cerita berubah, bagian dari dramatisasi di belakang kami menyala penerangannya memberikan illustrasi yang memadai dan mencekam. Diceritakan awalnya adalah karena kaum Puritan yang merupakan orang-orang Eropa pertama yang hidup dan tinggal di Salem adalah orang-orang yang takut akan setan dan pengaruhnya. Mereka ini termasuk orang-orang yang taat pada agamanya, tapi pemikiran kebanyakkan dari mereka sangat dangkal dan tradisional. Kalau diantara mereka terdapat orang-orang yang lain dari yang lain meski sebenarnya itu suatu hal yang normal, mereka akan mengucilkan orang-orang tersebut dan menuduh mereka yang bukan-bukan. Misalnya saja seperti kebisaan untuk menyembuhkan beberapa penyakit ringan melalui pengobatan tradisional dengan pemakaian rempah-rempah atau tanaman tertentu. Kebisaan ini diantara kaum Puritan dianggap sebagai upaya penyihir. Contoh lain, karena misalnya sebuah keluarga berbeda kebiasaan dalam melakukan sesuatu atau berbeda pandangan mengenai gereja mereka, hal itu pun juga dianggap sebagai upaya penyihir.
Narasi yang menggema di rungan lapang di Salem Witch Museum itu kemudian menceritakan awalnya bagaimana histeria massa menciptakan kecurigaan dan tuduhan demi tuduhan yang pada akhirnya mengantarkan 19 orang dihukum gantung dan seorang lainnya disiksa sampai tewas. Tersebutlah di keluarga Putnam yang termasuk keluarga terpandang di Salem Village, Thomas Putnam, Ann Putnam Sr. dan beberapa anak mereka. Putri tertua mereka, Ann Putnam Jr. yang di tahun 1692 berusia 12 tahun, termasuk saksi di Salem Witch Trial. Sementara itu di keluarga Parris, putri mereka yang bernama Betty Parris berusia 9 tahun dan sepupunya, Abigail Williams berusia 11 tahun, turut menentukan pula nasib beberapa orang saat Salem Witch Trial berlangsung. Dua gadis belia ini diceritakan oleh budak mereka yang berasal dari Barbados, bernama Tituba, berbagai cerita yang berhubungan dengan kegaiban dan ilmu hitam. Tituba sepertinya sekedar ingin menghibur dua gadis ini yang terlalu banyak dilarang karena pandangan kaum Puritan yang fanatik. Tapi siapa yang menyangka dari cerita-cerita yang berupa hiburan itu mengakibatkan munculnya tuduhan demi tuduhan terhadap tetangga-tetangga di sekitar akan perilaku para penyihir.
Betty Parris dan Abigail Williams suatu hari tiba-tiba saja bertingkah aneh. Mereka seperti kehilangan kesadaran, menangis, menerawang dan yang membuat orang tua mereka bingung, mereka mengeluarkan suara seperti binatang. Karena kuatir akan keadaan mereka, pendeta Samuel Parris meminta dokter setempat memeriksa kedua gadis itu. Akibat tidak mengertinya sang dokter tentang gejala-gejala yang dialami Betty dan Abigail, dia menentukan penyakit mereka adalah akibat pengaruh setan. Kemudian dua gadis itu dipaksa untuk mengakui siapa yang membuat mereka seperti itu. Karena mereka sebenarnya hanya anak-anak, mereka menyebut saja nama yang mereka anggap masuk akal. Salah satunya adalah Rebeca Nurse, seorang ibu tua berusia 71 tahun yang kurang pendengarannya dan termasuk wanita yang dianggap eksentrik oleh anak-anak itu meski dia termasuk wanita yang terhormat di kalangan masyarakat Salem Village. Sesudah itu histeria massa tumbuh dengan suburnya. Selain 3 gadis muda yang mengaku diri mereka terkena tenung sihir, lalu ada tambahan 5 gadis muda lainnya yang turut mendukung tuduhan dan dakwaan penyihir terhadap beberapa orang baik wanita maupun pria. Orang-orang yang dituduh sebagai penyihir ini diantara kasusnya berasal dari persengketaan antar tetangga mengenai lahan pertanian, atau akibat kecemburuan sosial yang berlangsung di Salem Village saat itu.
Akibat dari histeria massa yang menuduh beberapa orang melakukan praktek sihir, mereka yang dituduh ditangkap dan dipenjara. Rebeca Nurse, ibu tua yang pertama kali terkena tuduhan sebagai penyihir pada awalnya didakwa tidak bersalah oleh juri di pengadilan. Lalu anak-anak gadis yang menjadi saksi tiba-tiba berlaku seperti kerasukan setan dan menuding Rebeca Nurse menenung mereka dari jauh. Magistrate setempat bernama John Hathorne ditunjuk Gubernur Sir Williams Phips untuk menjadi hakim dari proses pengadilan penyihir yang diberi nama the Court of Oyer and Terminer meminta para juri untuk mempertimbangkan lagi hasil dakwaan mereka. Juri lalu menyatakan Rebeca Nurse bersalah dan akan dihukum gantung. Sejak awalnya John Hathorne sudah berlaku berat sebelah dan lebih membela para penuduh dan juga berlaku sebagai jaksa dibanding sebagai hakim yang mestinya mengatur proses pengadilan. Karena pengadilan yang hanya menerima kesaksian gadis-gadis yang kebanyakkan hanya mengetengahkan sisi dramatis dan keadaan yang tidak kentara, seperti seakan-akan badan mereka ditusuk-tusuk jarum, meski tidak ada buktinya mereka terluka, para tertuduh tidak punya harapan untuk dianggap tidak bersalah. Mengakibatkan 14 wanita dan 5 pria dihukum gantung dan seorang pria bernama Giles Cory disiksa dengan cara meletakkan batu-batu yang berat ke atas badannya supaya dia mengakui sebagai seorang penyihir. Giles Cory tewas tanpa pengakuan apapun.
