Berpuasa Ramadhan di Amerika berarti harus menerangkan seluk-beluk menjadi Muslim pada orang lain supaya mereka mengerti. Reaksi pertama tentu saja mereka tidak percaya, terutama dari kalangan orang-orang Amerika yang kurang paham tentang Islam. Di sekolah anak-anak, keberadaan perayaan Ramadhan cukup diketahui banyak pihak. Sehingga untuk menjelaskan kenapa ada anak-anak yang tidak ikut makan pagi dan makan siang bisa dimengerti. Dan untuk saya yang pernah berpuasa sewaktu bekerja, ada waktunya dimana saya harus menerangkan hal-hal tentang Islam pada beberapa orang supaya mereka lebih mengerti. Menekankan bahwa berpuasa Ramadhan bukanlah upaya menyiksa diri, itu yang selalu saya tegaskan. Sebab konotasi dari berpuasa adalah sebuah penderitaan. Siapa sih yang mau selama 12 jam (atau lebih) memilih untuk tidak menyantap makanan atau minuman, begitu pikir mereka.
Di tempat kerja saya dulu, saya dan beberapa kawan Muslim (dari Malaysia & Afrika) sangat beruntung. Karena boss kami, seorang kulit putih Amerika, sangat mengerti perbedaan kepercayaan dan agama. Pada jam-jam tertentu saya dan kawan saya bisa bergantian sholat di kantor si boss tanpa diganggu. Bahkan boss saya itu mau menunggu di luar kantornya atau menggantikan kerja saya sementara saat saya (atau kawan saya) sedang sholat. Kawan-kawan saya yang Non Muslim juga adalah orang-orang yang toleran terhadap agama orang lain. Meski sepertinya gaya hidup mereka termasuk yang bebas, mereka memperhatikan kami yang di mata beberapa orang mungkin aneh. Kawan kerja saya, Paul, dia termasuk yang perhatian kalau saya bilang saya sedang berpuasa. Saat bekerja dengan dia, dialah yang sibuk mencari jam waktu matahari terbenam di koran. Lalu saat saya sedang melayani para pelanggan, dia akan menyuruh saya buka puasa dan dia menggantikan saya. Dan saat waktunya sholat pun, dia tidak keberatan bekerja sendirian untuk beberapa saat. Kawan kerja lainnya, kalau misalkan mereka makan atau minum di depan saya, mereka bilang,"Sorry, Di", dan kadang memilih menyantap hidangan mereka di kantor boss supaya tidak menganggu saya.
Orang-orang Amerika biasanya digambarkan sebagai orang-orang yang kurang perduli sekelilingnya. Berbagai kepercayaan terutama di negara-negara Muslim tentang ketidakperdulian pemerintah Amerika dan para Non Muslim yang ada di Amerika, saya dan banyak kaum Muslim lainnya buktikan ketidakbenarannya. Pengalaman saya sewaktu saya sedang hamil atau menyusui dan berkeinginan untuk berpuasa pun diperhatikan oleh Physical Physician saya waktu itu. Dia ingin tahu hukumnya secara rinci mengenai wanita hamil atau menyusui dan berpuasa Ramadhan. Maka jangan heran kalau dia tahu dalil mengenai pembayaran Fidyah segala. Memiliki beberapa pasien yang Muslim menjadikan dia lebih berpengalaman dan tahu banyak hal dari mereka. Dan itu tentu saja membantu menjembatani perbedaan budaya dan kepercayaan yang ada. Sewaktu Idul Fitri datang, orang-orang seperti boss saya (dan istrinya), Physician saya dan guru-guru di sekolah anak-anak termasuk orang-orang Amerika yang memberikan selamat merayakannya. Menjadi Muslim di Amerika tidaklah selalu sulit dalam menjalankan ibadah seperti yang ditakutkan beberapa pihak di negara-negara Muslim. Justru dengan adanya perbedaan dan perayaan-perayaan tertentu, misalkan Ramadhan, bisa membantu menggambarkan hal yang baik dan positif tentang kaum Muslim yang sering dihubungkan dengan hal-hal yang tidak menyenangkan di dunia.
D. Yustisia
(Ditulis dan dipasang di blog dianadji.multiply.com 28 Agustus 2009 - photo dari kunjungan ke MET Museum)
(Saya dan keluarga mengucapkan,"Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Semoga Allah menambahkan rahmat dan hidayah-Nya di bulan suci ini. Semoga dosa-dosa kita lebur lewat ibadah yang kita jalankan. Amin")